Awas Corona Virus Finder, Trojan Pencuri Data Kartu Kredit!
Awas Corona Virus Finder, Trojan Pencuri Data Kartu Kredit! (Foto: Dok. Kaspersky)
Jakarta -
"Pengumuman hari ini adalah salah satu dari beberapa upaya yang kami kerjakan untuk mendukung mereka yang meliput pandemi ini. Kami berharap dapat berbagi lebih cepat," tulis Mantzarlis.Lalu Google Trends juga akan tersedia secara lebih luas untuk para jurnalis, petugas kesehatan, dan penegak hukum dengan dana untuk melatih jurnalis tentang cara menemukan informasi yang salah tentang kesehatan.
Baru-baru ini ditemukan sebuah trojan perbankan
yang menyaru sebagai aplikasi bernama Coronavirus Finder.
Seperti apa cara kerjanya?
Coronavirus Finder adalah
trojan Ginp yang menyaru sebagai aplikasi
yang memanfaatkan ketakutan orang terhadap virus corona. Aplikasi ini mengaku
bisa menunjukkan orang di sekitar pengguna yang terkena virus corona.
Tampilan antarmukanya sederhana, di
mana ia menunjukkan sejumlah orang di sekitar pengguna yang terinfeksi virus
tersebut. Lalu aplikasinya akan memaksa pengguna untuk membayar sejumlah uang
untuk memperlihatkan lokasi tepat dari orang yang terinfeksi itu.
Ditulis Kaspersky dalam keterangan
persnya, aplikasi ini terlihat sangat meyakinkan untuk banyak orang. Terlebih
lagi biaya yang dibayarkan relatif murah, dan jika si korban sudah yakin untuk
melakukan transaksi tersebut, mereka akan diarahkan ke dalam sebuah laman
situs.
Di laman tersebut, korban diminta untuk
memasukkan data-data kartu kreditnya. Setelah data-data tersebut dimasukkan,
sudah bisa ditebak, data kartu kredit itu pun resmi tercuri.
Mereka bahkan tak akan menagih biaya
yang seharusnya dibayarkan untuk melihat lokasi orang yang terinfeksi virus
corona itu. Si pencuri kini mempunyai informasi yang jauh lebih berharga
ketimbang nominal tersebut.
Tentu saja si korban juga tak akan
mendapat informasi mengenai lokasi orang yang positif COVID-19 itu, karena tak
ada yang mempunyai informasi seperti ini, bahkan pemerintah pun tak punya data
seperti itu.
Menurut Kaspersky Security Network,
saat ini korban terbanyak dari Ginp berlokasi di Spanyol. Namun, kemudian
ditemukan versi Ginp baru dengan embel-embel 'flash-2', di mana versi
sebelumnya bertuliskan 'flash-es12'. Mungkin saja versi baru ini adalah trojan
yang bakal disebarkan di luar Spanyol.
Ginp adalah satu dari sekian banyak
eksploitasi yang dibuat dengan memanfaatkan virus corona. Sebelumnya ada banyak
taktik phishing dan bermacam malware lain yang memanfaatkan isu serupa.
Google Kucurkan Dana Ratusan Miliar
Perangi Berita Hoax Corona
Google Kucurkan Dana
Ratusan Miliar Perangi Berita Hoax Corona. (Foto: GettyImages)
Jakarta -
Google telah mengumumkan akan menyiapkan dana
senilai USD 6,5 juta atau sekitar lebih dari 100 miliar untuk memerangi
penyebaran berita-berita yang salah terkait pandemi virus Corona.
Dana ini akan digunakan untuk lembaga pemeriksa
fakta (fact-checker), organisasi berita dan organisasi nirlaba di seluruh
dunia. Uang ini juga akan membantu portal media berita tertentu untuk
mengekspos dan melacak informasi yang salah tentang virus Corona.
"Membantu dunia dan
memahami informasi ini memerlukan respons luas yang melibatkan para ilmuwan,
jurnalis, tokoh masyarakat, platform teknologi dan masih banyak lagi,"
ujar Alexios Mantzarlis, Kepala Kredibilitas Berita dan Informasi di Google
News Lab dalam tulisan blog seperti dilansir detikINET dari The
Hill, Jumat (3/4/2020).
Lembaga-lembaga
pemeriksa fakta seperti PolitiFact dan Kaiser News akan menggunakan sebagian
dananya untuk memperluas upaya pengecekan data sedangkan situs pemeriksa fakta
lainnya seperti LataCehQue akan membantu mengoordinasikan pekerjaan pemeriksa
fakta yang berbahasa Spanyol.
Dana tersebut juga akan
digunakan untuk kelompok-kelompok serupa di Jerman, Prancis, Spanyol, Italia
dan Inggris dan ke jaringan pengecekan fakta internasional dan kelompok
advokasi global.
Sebagian dari uang itu
juga akan digunakan untuk beasiswa di Universitas Stanford yang akan membantu
para jurnalis untuk meliput soal virus corona dan juga kepada kelompok-kelompok
yang mendukung kemampuan jurnalis untuk mengakses seputar penelitian COVID-19.
"Pengumuman hari ini adalah salah satu dari beberapa upaya yang kami kerjakan untuk mendukung mereka yang meliput pandemi ini. Kami berharap dapat berbagi lebih cepat," tulis Mantzarlis.Lalu Google Trends juga akan tersedia secara lebih luas untuk para jurnalis, petugas kesehatan, dan penegak hukum dengan dana untuk melatih jurnalis tentang cara menemukan informasi yang salah tentang kesehatan.
Upaya Google untuk
mendukung jurnalis dan memerangi informasi yang salah ini muncul ketika
perusahaan media sosial berjuang untuk memblokir informasi yang salah
tentang virus corona.
Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn
Pengguna
Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna
(Foto: Adi Fida Rahman/detikINET)
Jakarta -
Zoom menjadi salah satu aplikasi yang populer di
era social distancing. Tapi semakin banyak
digunakan, semakin banyak celah keamanan dan privasi yang ditemukan di aplikasi
panggilan video tersebut.
Kali ini Zoom ketahuan menggali data dari LinkedIn penggunanya secara diam-diam.
Dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (3/4/2020) Zoom
rupanya memiliki fitur yang bisa mencocokkan nama dan email yang digunakan
seseorang untuk sign in dengan profil LinkedIn mereka.
Jika pengguna lain di rapat online Zoom
berlangganan layanan LinkedIn Sales Navigator, mereka bisa mengakses profil
LinkedIn milik partisipan lain dengan mengklik ikon di samping namanya.
Informasi ini bisa mencakup nama asli pengguna, tempat kerja dan lokasi.
Hal ini menjadi masalah
karena Zoom melakukan hal ini tanpa
sepengetahuan pengguna atau meminta izin dari mereka. Bahkan ketika pengguna
tidak menggunakan nama aslinya di Zoom, platform tersebut tetap bisa
mencocokkan mereka dengan akun LinkedIn-nya.
Untungnya, Zoom
mengatakan fitur yang mengancam privasi pengguna ini telah dinonaktifkan.
LinkedIn juga mengatakan bahwa mereka akan menangguhkan integrasi layanan
dengan Zoom sembari menginvestigasi kejadian ini.
Sejak popularitasnya
menanjak karena menjadi aplikasi pilihan untuk rapat dan bertatap muka secara
online, Zoom telah diwarnai beberapa isu privasi.
Sebelumnya mereka diketahui diam-diam mengirimkan data pengguna ke Facebook.
CEO Zoom, Eric S. Yuan
pun meminta maaf kepada seluruh penggunanya. Ia juga mengumumkan bahwa Zoom
akan menangguhkan update fitur baru selama 90 hari untuk fokus dalam
memperbaiki masalah privasi dan keamanan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar