Jumat, 03 April 2020

Artikel Terbaru yang Ramai di Masyarakat


Awas Corona Virus Finder, Trojan Pencuri Data Kartu Kredit! 

Awas Corona Virus Finder, Trojan Pencuri Data Kartu Kredit! (Foto: Dok. Kaspersky)

Jakarta -
Baru-baru ini ditemukan sebuah trojan perbankan yang menyaru sebagai aplikasi bernama Coronavirus Finder. Seperti apa cara kerjanya?
Coronavirus Finder adalah trojan Ginp yang menyaru sebagai aplikasi yang memanfaatkan ketakutan orang terhadap virus corona. Aplikasi ini mengaku bisa menunjukkan orang di sekitar pengguna yang terkena virus corona.

Tampilan antarmukanya sederhana, di mana ia menunjukkan sejumlah orang di sekitar pengguna yang terinfeksi virus tersebut. Lalu aplikasinya akan memaksa pengguna untuk membayar sejumlah uang untuk memperlihatkan lokasi tepat dari orang yang terinfeksi itu.

Ditulis Kaspersky dalam keterangan persnya, aplikasi ini terlihat sangat meyakinkan untuk banyak orang. Terlebih lagi biaya yang dibayarkan relatif murah, dan jika si korban sudah yakin untuk melakukan transaksi tersebut, mereka akan diarahkan ke dalam sebuah laman situs.

Di laman tersebut, korban diminta untuk memasukkan data-data kartu kreditnya. Setelah data-data tersebut dimasukkan, sudah bisa ditebak, data kartu kredit itu pun resmi tercuri.
Mereka bahkan tak akan menagih biaya yang seharusnya dibayarkan untuk melihat lokasi orang yang terinfeksi virus corona itu. Si pencuri kini mempunyai informasi yang jauh lebih berharga ketimbang nominal tersebut.

Tentu saja si korban juga tak akan mendapat informasi mengenai lokasi orang yang positif COVID-19 itu, karena tak ada yang mempunyai informasi seperti ini, bahkan pemerintah pun tak punya data seperti itu.

Menurut Kaspersky Security Network, saat ini korban terbanyak dari Ginp berlokasi di Spanyol. Namun, kemudian ditemukan versi Ginp baru dengan embel-embel 'flash-2', di mana versi sebelumnya bertuliskan 'flash-es12'. Mungkin saja versi baru ini adalah trojan yang bakal disebarkan di luar Spanyol.


Ginp adalah satu dari sekian banyak eksploitasi yang dibuat dengan memanfaatkan virus corona. Sebelumnya ada banyak taktik phishing dan bermacam malware lain yang memanfaatkan isu serupa.
Google Kucurkan Dana Ratusan Miliar Perangi Berita Hoax Corona
 Google Kucurkan Dana Ratusan Miliar Perangi Berita Hoax Corona. (Foto: GettyImages)


Jakarta - 
Google telah mengumumkan akan menyiapkan dana senilai USD 6,5 juta atau sekitar lebih dari 100 miliar untuk memerangi penyebaran berita-berita yang salah terkait pandemi virus Corona.
Dana ini akan digunakan untuk lembaga pemeriksa fakta (fact-checker), organisasi berita dan organisasi nirlaba di seluruh dunia. Uang ini juga akan membantu portal media berita tertentu untuk mengekspos dan melacak informasi yang salah tentang virus Corona.
"Membantu dunia dan memahami informasi ini memerlukan respons luas yang melibatkan para ilmuwan, jurnalis, tokoh masyarakat, platform teknologi dan masih banyak lagi," ujar Alexios Mantzarlis, Kepala Kredibilitas Berita dan Informasi di Google News Lab dalam tulisan blog seperti dilansir detikINET dari The Hill, Jumat (3/4/2020).
Lembaga-lembaga pemeriksa fakta seperti PolitiFact dan Kaiser News akan menggunakan sebagian dananya untuk memperluas upaya pengecekan data sedangkan situs pemeriksa fakta lainnya seperti LataCehQue akan membantu mengoordinasikan pekerjaan pemeriksa fakta yang berbahasa Spanyol.
Dana tersebut juga akan digunakan untuk kelompok-kelompok serupa di Jerman, Prancis, Spanyol, Italia dan Inggris dan ke jaringan pengecekan fakta internasional dan kelompok advokasi global.
Sebagian dari uang itu juga akan digunakan untuk beasiswa di Universitas Stanford yang akan membantu para jurnalis untuk meliput soal virus corona dan juga kepada kelompok-kelompok yang mendukung kemampuan jurnalis untuk mengakses seputar penelitian COVID-19.

"Pengumuman hari ini adalah salah satu dari beberapa upaya yang kami kerjakan untuk mendukung mereka yang meliput pandemi ini. Kami berharap dapat berbagi lebih cepat," tulis Mantzarlis.
Lalu Google Trends juga akan tersedia secara lebih luas untuk para jurnalis, petugas kesehatan, dan penegak hukum dengan dana untuk melatih jurnalis tentang cara menemukan informasi yang salah tentang kesehatan.
Upaya Google untuk mendukung jurnalis dan memerangi informasi yang salah ini muncul ketika perusahaan media sosial berjuang untuk memblokir informasi yang salah tentang virus corona.

Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna

Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna (Foto: Adi Fida Rahman/detikINET)

Jakarta - 
Zoom menjadi salah satu aplikasi yang populer di era social distancing. Tapi semakin banyak digunakan, semakin banyak celah keamanan dan privasi yang ditemukan di aplikasi panggilan video tersebut.
Kali ini Zoom ketahuan menggali data dari LinkedIn penggunanya secara diam-diam. Dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (3/4/2020) Zoom rupanya memiliki fitur yang bisa mencocokkan nama dan email yang digunakan seseorang untuk sign in dengan profil LinkedIn mereka.
Jika pengguna lain di rapat online Zoom berlangganan layanan LinkedIn Sales Navigator, mereka bisa mengakses profil LinkedIn milik partisipan lain dengan mengklik ikon di samping namanya. Informasi ini bisa mencakup nama asli pengguna, tempat kerja dan lokasi.
Hal ini menjadi masalah karena Zoom melakukan hal ini tanpa sepengetahuan pengguna atau meminta izin dari mereka. Bahkan ketika pengguna tidak menggunakan nama aslinya di Zoom, platform tersebut tetap bisa mencocokkan mereka dengan akun LinkedIn-nya.
Untungnya, Zoom mengatakan fitur yang mengancam privasi pengguna ini telah dinonaktifkan. LinkedIn juga mengatakan bahwa mereka akan menangguhkan integrasi layanan dengan Zoom sembari menginvestigasi kejadian ini.
Sejak popularitasnya menanjak karena menjadi aplikasi pilihan untuk rapat dan bertatap muka secara online, Zoom telah diwarnai beberapa isu privasi. Sebelumnya mereka diketahui diam-diam mengirimkan data pengguna ke Facebook.
CEO Zoom, Eric S. Yuan pun meminta maaf kepada seluruh penggunanya. Ia juga mengumumkan bahwa Zoom akan menangguhkan update fitur baru selama 90 hari untuk fokus dalam memperbaiki masalah privasi dan keamanan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar